Berikut ini adalah 11 nasehat Ali bin Abu Thalib yang penuh hikmah dengan bahasa yang sangat indah :
1. Sikap qanaah adalah milik yang paling berharga, kemuliaan akhlak adalah nikmat hidup yang smpurna
2. Orang yang banyak memberi akan banyak menerima
3. Seorang dai yang tidak beramal bagaikan memegang busur tanpa memiliki anak panah
4. Dosa yang paling besar adalah yang paling mengusik pelakunya
5. Aib paling besar adalah kembali melakukan kesalahan yang pernah dilakukan
6. Balaslah orang yang berbuat buruk kepadamu dengan berbuat baik kepadanya
7. Ketamakan adalah keburukan abadi
8. Orang yang tidak bisa bersabar akan dihancurkan oleh kesulitan
9. Binasalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya
10. Semangat adalah separuh keberhasilan
11. Orang yang sabar pasti menang, meski kadang butuh waktu lama tuk capai kemenangannya
Kamis, 20 Oktober 2011
11 Nasehat Khalifah ALi bin Abu Thalib
Berikut ini adalah 11 nasehat Ali bin Abu Thalib yang penuh hikmah dengan bahasa yang sangat indah :
1. Sikap qanaah adalah milik yang paling berharga, kemuliaan akhlak adalah nikmat hidup yang smpurna
2. Orang yang banyak memberi akan banyak menerima
3. Seorang dai yang tidak beramal bagaikan memegang busur tanpa memiliki anak panah
4. Dosa yang paling besar adalah yang paling mengusik pelakunya
5. Aib paling besar adalah kembali melakukan kesalahan yang pernah dilakukan
6. Balaslah orang yang berbuat buruk kepadamu dengan berbuat baik kepadanya
7. Ketamakan adalah keburukan abadi
8. Orang yang tidak bisa bersabar akan dihancurkan oleh kesulitan
9. Binasalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya
10. Semangat adalah separuh keberhasilan
11. Orang yang sabar pasti menang, meski kadang butuh waktu lama tuk capai kemenangannya
1. Sikap qanaah adalah milik yang paling berharga, kemuliaan akhlak adalah nikmat hidup yang smpurna
2. Orang yang banyak memberi akan banyak menerima
3. Seorang dai yang tidak beramal bagaikan memegang busur tanpa memiliki anak panah
4. Dosa yang paling besar adalah yang paling mengusik pelakunya
5. Aib paling besar adalah kembali melakukan kesalahan yang pernah dilakukan
6. Balaslah orang yang berbuat buruk kepadamu dengan berbuat baik kepadanya
7. Ketamakan adalah keburukan abadi
8. Orang yang tidak bisa bersabar akan dihancurkan oleh kesulitan
9. Binasalah orang yang tidak mengetahui kadar dirinya
10. Semangat adalah separuh keberhasilan
11. Orang yang sabar pasti menang, meski kadang butuh waktu lama tuk capai kemenangannya
Selasa, 20 September 2011
Mengapa Tidak Mau Ingkar Kepada Thaghut?
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاأَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu." (QS. An-Nahl [16] : 36)Pesan ini dibawa oleh setiap Nabi dan Rasul Allah sepanjang masa. Setiap umat telah mendengar pesan abadi para Rasul Allah ini. Suatu pesan yang ibarat coin bersisi ganda. Ada sisi keharusan menyembah Allah سبحانه و تعالى semata dan sisi lainnya ialah menjauhi Thaghut.
Adapun menurut istilah syariat, definisi yang terbaik adalah yang disebutkan Ibnul Qayyim rahimahullah: "(Thaghut) adalah setiap sesuatu yang melampui batasannya, baik yang disembah (selain Allah Subhanahu wa Ta'ala), atau diikuti atau ditaati (jika dia ridha diperlakukan demikian)."
Definisi lain, thaghut adalah segala sesuatu yang diibadahi selain Allah (dalam keadaan dia rela). Menurut Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah di dalam kajiannya mengenai Tauhid bahwa Thaghut itu mencakup banyak hal. Namun pimpinannya ada lima, yaitu:
- Iblis atau syetan
- Penguasa yang zalim
- Orang yang memutuskan perkara dengan aturan selain apa yang telah Allah سبحانه و تعالى turunkan
- Orang yang mengaku mengetahui perkara yang ghaib selain Allah سبحانه و تعالى
- Orang yang diibadati selain Allah dan dia rela dengan peribadatan itu.
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُوَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُمِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُوَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Laa ilaha illa Allah dan ingkar terhadap penghambaan kepada selain Allah, maka terpeliharalah hartanya, darahnya dan hisabnya (perhitungan amalnya) terserah Allah.” (HR. Muslim 1/119)Jadi, utuhnya Tauhid seorang muslim adalah ketika berpadu di dalam dirinya keimanan akan Allah سبحانه و تعالى dibarengi dengan berlepas dirinya dari penghambaan kepada apapun atau siapapun selain Allah سبحانه و تعالى alias thaghut. Inilah yang sering disebut dengan pasangan al-wala’ (loyalitas/kesetiaan) dan al-bara’ (disasosiasi/berlepas diri). Tidak dikatakan beriman seorang yang mengaku muslim bila ia hanya wala’ kepada Allah سبحانه و تعالى namun tidak bersedia untuk bara’ dari thaghut. Perumpamaannya seperti seorang yang ingin sehat dan bugar tetapi dengan jalan memakan makanan yang menyehatkan, bergizi lagi mengandung nutrisi tinggi sambil tetap membiarkan diri mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung racun, toxic dan merusak tubuh. Bagaimana ia akan benar-benar menjadi sehat dan bugar? Mustahil.
Demikian pula dengan seorang muslim yang ingin diterima Allah سبحانه و تعالى . Mustahil hal itu akan bisa terwujud bila di satu sisi ia menyerahkan wala’-nya kepada Allah سبحانه و تعالى , mengaku meyakini kebenaran ajaran dienullah Al-Islam serta menjadikan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم sebagai teladan namun pada saat yang sama ia tetap menyerahkan wala’-nya juga kepada pihak thaghut, meyakini kebenaran ideologi, aturan dan hukum thaghut serta menokohkan para sosok pemimpin thaghut dalam kehidupan sehari-hari. Mustahil keinginannya untuk diterima Allah سبحانه و تعالى sebagai seorang muslim alias hamba yang menyerahkan diri kepada Allah سبحانه و تعالى bakal tercapai....! Itulah rahasianya mengapa setiap khutbah jumat para khotib dari atas mimbar senantiasa mewasiatkan jamaah untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya taqwa kepada Allah سبحانه و تعالى . Karena hanya dengan itulah seorang manusia berpeluang untuk menemui ajal dalam keadaan menjadi seorang muslim.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّتُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai muslim.” (QS. Ali-Imran [3] : 102)Seorang muslim yang di satu sisi ber-wala’ kepada Allah سبحانه و تعالى namun di lain sisi juga ber-wala’ kepada thaghut adalah seorang muslim yang berdusta. Sebab pihak yang ber-wala' kepada thaghut berarti menjadikan thaghut tersebut menjadi wali-nya (pemimpin, pelindung dan penolongnya). Dan itu berarti ia tidak bisa disebut seorang yang beriman. Padahal ia tidak mau disebut sebagai seorang kafir. Di dalam Al-Qur’an Allah سبحانه و تعالى menyatakan bahwa yang ber-wala’ kepada Allah سبحانه و تعالى berarti menjadikan Allah سبحانه و تعالى sebagai Wali-nya (pemimpin, pelindung dan penolongnya). Dan mereka itulahlah orang-orang yang beriman. Sedangkan yang ber-wala’ kepada thaghut adalah kaum kafir. Bagaimana mungkin di dalam diri satu orang ada dua identitas yang bertolak-belakang? Mustahil.
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوايُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِإِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُالطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَالنُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran).” (QS. Al-Baqarah [2] : 257)Manusia yang bersikap ganda dalam menyerahkan wala’-nya berarti telah mendustakan pengakuan dirinya sebagai seorang yang beriman. Bagaimana bisa ia di satu sisi ber-Wali-kan Allah سبحانه و تعالى tetapi pada saat yang bersamaan ber-wali-kan thaghut? Bagimana mungkin di satu sisi ia ingin hidup dalam cahaya (iman) yang terang benderang padahal setiap saat ia justeru semakin menuju kepada kegelapan (kekafiran)? Sungguh, ia adalah seorang pendusta...! Inilah sebabnya Allah سبحانه و تعالى tidak membiarkan manusia sekadar mengaku kalau dirinya beriman lalu tidak mengalami ujian lebih lanjut. Ujian di dalam kehidupan di dunia merupakan sarana untuk menyingkap siapa yang jujur dalam pengakuan keimanannya dan siapa yang berdusta.
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُواأَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَوَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْفَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَصَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)Dewasa ini kita sedang menjalani era penuh fitnah (ujian). Belum pernah ummat Islam mengalami era yang lebih pahit daripada era sekarang. Bayangkan...! Allah سبحانه و تعالى menguji kaum beriman dengan mengizinkan kepemimpinan dunia secara global diserahkan kepada kaum kuffar. Berarti perjalanan dunia dewasa ini sedang disetir oleh para thawaghit (bentuk jamak dari kata thaghut). Aturan dan hukum yang diberlakukan juga merupakan aturan thaghut hasil rumusan para thaghut. Sementara aturan dan hukum Allah سبحانه و تعالى tidak diizinkan untuk diberlakukan, malah dilabel sebagai aturan yang kuno, tidak sesuai dengan zaman modern dan dipandang zalim. Na’udzubillaaahi min dzaalika...!
Hampir setiap hari kita dengar kabar bahwa di Amerika serta Eropa kaum kuffar dan para pemimpinnya menolak the Shariah Law(syariat hukum Allah سبحانه و تعالى). Kalau itu hanya terjadi di negeri-negeri mereka, kita masih bisa maklumi. Tetapi pahitnya, hal ini sudah menjadi trend (kecenderungan umum) di negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslim juga. Tidak sedikit kaum muslimin yang terang-terangan menolak diberlakukannya syariat hukum Allah سبحانه و تعالى . Dia mengaku ber-Wali-kan Allah سبحانه و تعالى tetapi ia lebih rela tunduk kepada hukum thaghut..! Kondisi dan derajat ujian yang ummat Islam hadapi dewasa ini sudah sangat mirip dengan gambaran hadits Nabi صلى الله عليه و سلم sebagai berikut:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْشِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍحَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِيجُحْرِ ضَبٍّلَاتَّبَعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِآلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga sekiranya mereka masuk ke dalam lubang biawak pun kalian pasti akan mengikuti mereka." Kami bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab: "Siapa lagi kalau bukan mereka." (HR. Muslim 4822) Kita tidak bisa pungkiri bahwa kepemimpinan global dunia sedang di tangan masyarakat barat. Mereka tidak lain merupakan the Judeo-Christian Civilization (peradaban Yahudi-Nasrani). Kemudian kita saksikan begitu banyak kaum muslimin beserta para pemimpinnya mengekor kepada peradaban mereka dalam hampir segenap aspek kehidupan di dunia. Padahal sikap demikian sama saja dengan sikap wala’ ganda. Di satu sisi ingin ber-Wali-kan Allah سبحانه و تعالى tetapi di lain sisi membiarkan diri juga menjadikan thaghut sebagai wali pula. Allah سبحانه و تعالى jelas-jelas melarang hal ini. Malah Allah سبحانه و تعالى menggambarkan mereka yang bersikap demikian sama saja telah menjadi bahagian dari golongan mereka, yang berarti keluar dari identitas sebagai kaum muslimin....!
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوالا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىأَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍوَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْإِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi wali-walimu (pemimpin-pemimpinmu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 51)Dan mereka yang mengekor kepada kaum kuffar —baik dari kalangan ahli Kitab maupun kaum musyrikin— berarti telah menyediakan kehidupannya untuk diatur berdasarkan hukum thaghut padahal mereka mengaku beriman....!
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَأَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَوَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَيُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِوَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِوَيُرِيدُ الشَّيْطَانُأَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلالا بَعِيدًا
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa [4] : 60)Sungguh, setelah memperhatikan berbagai peringatan dan penjelasan Allah سبحانه و تعالى di atas yang begitu terang, hanya satu pertanyaan yang menggelayut di fikiran seorang muslim-muwahhid sejati: mengapa gerangan masih ada orang yang mengaku dirinya muslim namun tidak mau mengingkari thaghut? Wallahu a’lam bish-showwaab.
sumber :
http://www.eramuslim.com/suara-langit/penetrasi-ideologi/mengapa-tidak-mau-ingkar-kepada-thaghut.htm
Senin, 19 September 2011
Mensyukuri Nikmat PERSATUAN
SOLOPOS (16/9/2011). Dalam rangka mengokohkan persatuan antar berbagai kelompok, golongan dan suku bangsa para pendiri negeri ini memilih semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan dalam keberagaman di bawah Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semangat persatuan itu juga tercermin dalam Sumpah Pemuda, satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa, yakni Bahasa Indonesia.
Sayang sekali semangat persatuan Indonesia yang menjadi sila ke tiga dari Pancasila itu saat ini semakin memudar. Jiwa persaudaraan dan kebersamaan antara individu, antar kelompok, antar suku bangsa semakin sirna. Persoalan sepele sering menjadi penyulut terjadinya konflik horizontal. Perkelahian antar kelompok pemuda di Jakarta, tawuran antar kelompok mahasiswa di Makassar, bentrok pilkada di Papua dan gejolak yang terjadi di Ambon yang menelan korban jiwa, menunjukkan bahwa semangat persatuan, jiwa pesaudaraan dan kebersamaan telah lenyap dari hati sanubari mereka.
Dalam konteks ekonomi negeri ini sedang diterjang badai korupsi. Pejabat yang korup tanpa belas kasihan menyikat uang rakyat. Di Kementerian Sosial ada kasus pengadaan mesin jahit dan sapi. Di Kementerian Kehutanan ada kasus Sistem Komunikasi Radio Terpadu (SKRT). Di Kementerian Olah Raga ada kasus Pembangunan Wisma Athleet. Di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi ada kasus Dana Percepatan. Di Kementerian Kesehatan ada kasus Pengadaan Alat-alat Kesehatan. Di Kementerian Dalam Negeri disinyalir ada penyimpangan proyek E-KTP. Hampir tidak ada kementerian yang tidak terjamah korupsi. Tidak ada lagi semangat kebersamaan antara pejabat dengan rakyat. Gaji, tunjangan, insentif, dan remunerasi yang besar tidak mampu melunakkan kethamakan para pejabat akan harta. Mereka tidak peduli halal haram, semua diembat, tidak peduli hak orang melarat.
Saudaraku, negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini tidak akan mampu membangun semangat persatuan, persaudaraan, dan kebersamaan yang hakiki kalau rakyatnya tidak memegang teguh tali agama Allah. Sesuai dengan pesan Allah dalam QS. Ali Imran : 103 “Wa’tashimuu bi hablillaaahi jamii’aw wa laa tafarraquu“. (Berpeganglah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah berpecah belah.)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.
Maka untuk membangun semangat persatuan, pesaudaraan, dan kebersamaan itu ummat Islam harus dibimbing untuk kembali kepada agamanya, kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah mereka dibimbing untuk menjadi manusia yang berakhlaq mulia, yang mengutamakan kepentingan bersama dari pada kepentingan pribadi atau golongan, yang menomor-satukan persatuan dari pada perpecahan, yang mendahulukan pertimbangan moral dari pada keserakahan.
Mereka sadar bahwa semua ucapan dan perbuatan harus mereka pertanggung-jawabkan di hadapan Allah. Mereka menghindari perbuatan makshiyat dan merugikan sesama karena Allah. Mereka berkarya untuk bangsa dan berprestasi untuk negeri juga karena Allah. Andai penduduk negeri ini seperti itu maka cita-cita untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan rakyat segera akan terwujud dengan pertolongan Allah.
Tanpa moral yang baik, sistem sebagus apapun akan dirusak, aturan sebagus apapun akan dilanggar, dan dana sebesar apapun akan habis dikorup. Pembangunan dengan orientasi ekonomi yang kita lakukan selama 66 tahun merdeka ini tidak membuahkan kemakmuran, apalagi kesejahteraan, karena dirusak oleh orang-orang yang tidak bermoral. Kapan lagi kalau tidak mulai sekarang untuk membangun bangsa dengan orientasi moral dari pada yang lain?.
~oO[ @ ]Oo~
Al-Ustadz Drs Ahmad Sukina
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)
Ketua Umum Majlis Tafsir Al-Qur’an (MTA)
Lima Pentolan Thaghut: (5) Yang Diibadati Selain Allah dan Dia Rela dengan Peribadatan Itu Read more: http://mantankyainu.blogspot.com/2011/09/lima-pentolan-thaghut-5-yang-diibadati.
Tauhid terdiri atas dua sisi yang mesti hadir secara simultan. Di satu sisi ada keharusan untuk memfokuskan ibadah (pengabdian/penghambaan) kepada Allah سبحانه و تعالى semata, dan di lain sisi ada keharusan untuk menjauhi dan mengingkari segala bentuk thaghut. Ada kewajiban ber-wala (menyerahkan kesetiaan/loyalitas) kepada Allah سبحانه و تعالى dan ada kewajiban untuk ber-baro (melepaskan diri/disasiosiasi) dari segala macam dan bentuk thaghut. Inilah pesan abadi para utusan Allah سبحانه و تعالى sepanjang zaman.
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan ), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl [16] : 36)
Tidak sah iman seorang muslim bila ia hanya sibuk menghamba kepada Allah سبحانه و تعالى namun ia tidak bersedia menjauhi dan mengingkari thaghut. Bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim dikatakan ber-tauhid bilamana di satu sisi ia beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى namun di lain sisi ia mendekat bahkan bekerjasama dengan thaghut? Tidak sah imannya! Bukan tidak sempurna imannya, tetapi tidak sah. Mengapa? Karena ibarat coin yang memiliki dua muka, tidak dapat dikatakan coin jika hanya terdiri dari satu muka saja. Demikian pula dengan iman tauhid seorang muslim. Tidak disebut tauhid jika hanya mengandung ibadah kepada Allah سبحانه و تعالى sedangkan menjauhi dan mengingkari thaghut tidak ada. Hadirnya tauhid di dalam diri seseorang ialah ketika ia beribadah kepada Allah سبحانه و تعالى seraya menjauhi serta mengingkari berbagai jenis thaghut. Sehingga Allah سبحانه و تعالى berfirman:
فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat (La ilaha illa Allah) yang tidak akan putus.” (QS. Al-Baqarah [2] : 256)
Thaghut-thaghut itu banyak sekali dan ada lima di antaranya yang merupakan thaghut utama alias pentolan thaghut:
1. Syaitan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى
2. Pemerintah yang zalim yang merubah hukum-hukum Allah سبحانه و تعالى
3. Orang yang memutuskan hukum dengan sesuatu yang bukan diturunkan Allah سبحانه و تعالى
4. Orang yang mengklaim mengetahui hal yang Ghaib, padahal itu hak khusus Allah سبحانه و تعالى
5. Segala sesuatu yang disembah selain Allah سبحانه و تعالى , sedangkan dia rela dengan penyembahan tersebut
Inilah lima pentolan thaghut. Setiap orang yang mengaku muslim wajib menjauhi dan mengingkari semua thaghut di atas. Jika tidak, berarti ia telah mengingkari ikrar keimanannya atau tauhid-nya. Dan sah-tidaknya iman seseorang bergantung kepada pengingkarannya kepada thaghut. Bila ia tidak mengingkari thaghut berarti imannya tidak sah. Walaupun ia rajin sholat, puasa di bulan Ramadhan, bersedekah dan berbagai amal kebaikan lainnya, namun bila ia mendekat apalagi bekerjasama dengan thaghut, berarti apa yang ia kerjakan tidak mendapat penilaian di sisi Allah سبحانه و تعالى . Mengapa demikian? Karena orang yang tidak sah imannya alias tidak sah tauhidnya, berarti ia telah syirik. Sebab lawannya tauhid adalah syirik, mempersekutukan Allah سبحانه و تعالى . Dan barangsiapa terlibat di dalam dosa syirik, semua kebaikan yang pernah ia lakukan di dunia akan terhapus dan tidak memperoleh penilaian apapun di sisi Allah سبحانه و تعالى . Wa na’udzubillaahi min dzaalika..!
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sungguh, bila kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar [39] : 65)
Dan Allah سبحانه و تعالى telah memperingatkan bahwa sekadar mengaku beriman, tetapi tidak memenuhi konsekuensinya, maka sangat boleh jadi seseorang terjatuh kepada kemusyrikan:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” (QS. Yusuf [12] : 106)
Pada tulisan sebelumnya berjudul “Lima Pentolan Thaghut (1)” kami telah membahas pentolan thaghut yang pertama yaitu “syaitan yang selalu mengajak untuk beribadah kepada selain Allah سبحانه و تعالى”. Lalu pada tulisan berikutnya yang berjudul “Lima Pentolan Thaghut (2) Pemerintah Zalim” kami telah membahas pentolan thaghut yang kedua. Kemudian pada tulisan berikutnya yang berjudul “Lima Pentolan Thaghut: (3) Yang Memutuskan Bukan Dengan Hukum Allah” kami telah membahas pentolan thaghut ketiga. Dan pada tulisan “Lima Pentolan Thaghut: (4) Yang Mengaku Tahu Perkara Ghaib Selain Allah” kami telah membahas pentolan thaghut keempat.
Maka pada tulisan kali ini kita akan membahas pentolan thaghut yang kelima, yaitu “Orang yang diibadati selain Allah سبحانه و تعالى dan dia rela dengan peribadatan itu”.Thaghut jenis ini seringkali tampil dalam bentuk para pemuka agama. Mengapa pemuka agama bisa menjadi thaghut?
Karena mereka merupakan fihak yang seringkali mendapat pernghormatan dari masyarakat, jamaah, murid-murid, anak-buah, kader-kader di sekeliling dirinya. Jika menyikapi penghormatan tersebut mereka tidak sanggup menata hati dan fikirannya untuk tetap bersikap “tawadhu” (rendah hati), niscaya ia akan berkembang menjadi melampaui batas. Akhirnya pemuka agama itu menjadi lupa diri, kemudian mengeluarkan pendapat atau fatwa yang tidak dilandasi oleh ayat Allah سبحانه و تعالى (Al-Qur’an) atau Hadits Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم. Seenaknya saja ia mengeluarkan pendapat pribadinya tanpa mengacu kepada Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم sebab ia sudah terlalu senang dan bangga akan sikap tsiqoh (kepercayaan) serta tho’ah (ketaatan) dari jamaahnya yang selalu memandangnya sebagai Kyai, Ajengan, Mursyid, Habib, Imam, Amir, Ustadz atau Qiyadah yang tidak pernah salah, selalu benar dalam ucapan maupun perbuatan. Jiwa kritis dari orang-orang di sekelilingnya menjadi mati. Tradisi keilmuan diganti dengan pola indoktrinasi. Keharusan memahami diganti dengan sikap dogmatis dalam mempercayai dan mematuhi sang pemuka agama.
عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي عُنُقِي صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ يَا عَدِي اطْرَحْ عَنْكَ هَذَا الْوَثَنَ وَسَمِعْتُهُ يَقْرَأُ فِي سُورَةِ بَرَاءَة { اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ } قَالَ أَمَا إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ وَلَكِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا أَحَلُّوا لَهُمْ شَيْئًا اسْتَحَلُّوهُ وَإِذَا حَرَّمُوا عَلَيْهِمْ شَيْئًا حَرَّمُوهُ
Adi bin Hatim ra berkata, “Aku mendatangi Nabi صلى الله عليه و سلم dan di leherku ada salib emas, beliau bersabda, ‘Hai Adi, buanglah patung ini darimu.’ Dan aku mendengar beliau membaca dalam surat Al-Baraa`ah:
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah.” (QS At-Taubah [9] : 31) beliau bersabda, ‘Ingat, sesungguhnya mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) tidak menyembah orang-orang alim dan rahib-rahib tersebut, tapi bila para pemuka agama itu menghalalkan sesuatu, mereka menghalalkannya dan bila mengharamkan sesuatu, mereka mengharamkannya’." (Hadits Hasan Riwayat Tirmidzi No. 3020)
Berdasarkan hadits di atas bila suatu kaum sedemikian mempercayai dan mentaati para pemuka agama sampai memberikan hak menetapkan halal dan haram kepada mereka, berarti itu merupakan suatu bentuk peribadatan. Para pemuka agama tersebut telah menjadi Rabb-Rabb selain Allah سبحانه و تعالى . Tidak perlu umat itu bersujud atau menyembah di hadapan para pemuka agama, cukup dengan menghalalkan apa-apa yang mereka halalkan padahal Allah سبحانه و تعالى haramkan, atau mengharamkan apa-apa yang mereka haramkan padahal Allah سبحانه و تعالى halalkan, maka itu berarti para pemuka agama tersebut telah diibadati oleh umat, dan itu berarti pemuka agama tadi telah berubah menjadi thaghut..!
Hak menetapkan at-tahlil wat-tahrim (halal dan haram) merupakan hak khusus Allah سبحانه و تعالى . Sehingga Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:
الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ
Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda: "Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.” (Hadits Shahih Riwayat Al-Bukhari No. 50)
Para thaghut jenis ini seringkali mengeluarkan pendapat berdasarkan fikiran pribadi, tanpa menimbang bagaimana sebenarnya menurut Allah سبحانه و تعالى dan RasulNya صلى الله عليه و سلم. Lalu karena tsiqoh dan taat dari jamaahnya sudah tertanam sedemikian rupa, akhirnya mereka tidak pernah dikritisi. Bahkan jika ada di antara muridnya yang sedikit saja menunjukkan keingintahuan yang di atas rata-rata murid lainnya, lalu bertanya: “Ya Syaikh, atau pak Kyai, atau Pak Habib, kira-kira apa yang tadi dijelaskan bisa kita rujuk ke surah berapa ayat berapa di dalam Al-Qur’an? Atau di dalam hadits Nabi صلى الله عليه و سلم yang mana?” Maka pertanyaan seperti ini seringkali tidak perlu dijawab oleh sang pemuka agama, sebab salah seorang muridnya akan segera menghardiknya dengan mengatakan: “Hai fulan, kurang ajar sekali kamu dengan Syaikh kita, atau pak Kyai, atau pak Habib...! Apakah kamu tidak tsiqoh dengan beliau? Kamu mesti percaya donk dengan apa yang dikatakannya...! Sudahlah, kalaupun dijelaskan kamu juga tidak akan cukup ilmu untuk memahaminya. Taat sajalah...!” Maka di dalam majelis para pemuka agama yang telah menjadi thaghut ini biasanya atmosfir keilmuan sudah redup. Yang ada hanyalah doktrin dan dogma yang mesti dipatuhi. Jika tidak, maka si murid “nakal” tersebut akan dihukum bahkan akan dicabut pengakuannya sebagai murid majelis sang pemuka agama yang telah menjadi thaghut tersebut.
Oleh karenanya Allah سبحانه و تعالى mengkritik kaum Nasrani yang memperlakukan Nabiyullah Isa alahis-salam berlebihan sehingga diyakini sebagai tuhan atau anak tuhan. Allah سبحانه و تعالى berfirman:
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ
“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah سبحانه و تعالى berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah سبحانه و تعالى ." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS. Ali-Imran [3] : 79)
Nabiyullah Isa alaihis-salam telah diberikan oleh Allah سبحانه و تعالى Al-Kitab Injil, hikmah dan kenabian. Tidak mungkin beliau kemudian malah menyuruh manusia untuk menyembah dirinya bukan menyembah Allah سبحانه و تعالى . Jadi, adalah satu tuduhan keji bila kaum Nasrani yang mengaku pengikut Nabi Isa alaihis-salam mengatakan bahwa Isa merupakan tuhan atau anak tuhan. Malah yang pantas dikatakan oleh seorang berstatus seorang Nabi dan telah memperoleh wahyu dari Allah سبحانه و تعالى ialah: "Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
Artinya, seorang Nabi atau pemuka agama sejati adalah orang yang senantiasa menghidup-suburkan budaya belajar dan mengajar di dalam majelis yang dipimpinnya. Seorang pemuka agama sejati akan dengan senang hati menuntun dan membimbing murid-muridnya menjadi orang-orang yang cinta ilmu, gemar belajar dan senang mengajar. Sehingga tradisi bertanya bukanlah suatu aib atau bentuk kekurangajaran, tetapi tradisi bertanya merupakan bukti keberhasilan pemuka agama tersebut di dalam membentuk murid-muridnya menjadi Rabbaniyyiin. Bila budaya bertanya segera diartikan sebagai suatu ketidak-tsiqohan dan ketidak-taatan murid kepada gurunya, berarti sangat besar kemungkinan sang Kyai, Ajengan, Mursyid, Habib, Imam, Amir, Ustadz atau Qiyadah yang memimpin majelis, jamaah, tarekat, perkumpulan, organisasi atau partai tersebut telah berkembang menjadi seorang thaghut. Wa na’udzu billaahi min dzaalika...!
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُ
”Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami mengetahuinya dan kami meminta ampun kepada-Mu terhadap apa yang kami tidak ketahui”. (HR. Ahmad No. 18781)
Sumber : http://m.eramuslim.com/suara-langit
Rabu, 07 September 2011
PEMBUKAAN
Kula Nyuwun Pangayoman Dhumateng Gusti Allah saking panggodhaning syetan ingkang dipun ranjam
Kanthi Asma Dalem Allah Dzat Ingkang Maha Mirah lan Maha Asih
Sadaya puji lan pangalembana muhung kagungan Dalem Allah Dzat ingkang angaratoni sadaya ngalam
Ingkang Maha Mirah lan Maha Asih
Ingkang angratoni benjang ing dinten piwales
Namung dhateng Tuan (dhuh Allah) kula manembah, lan namung dhumateng Tuwan (dhuh Allah) kula nyuwun pitulungan.
Mugi katedahna ing kula marg ingkang jejeg lan leres
inggih punika margining kawula Paduka ingkang nampi peparing ni'mat
sanes margining para ingkang nampi bebendu
lan sanes margining para ingkang sasar
Kanthi Asma Dalem Allah Dzat Ingkang Maha Mirah lan Maha Asih
Sadaya puji lan pangalembana muhung kagungan Dalem Allah Dzat ingkang angaratoni sadaya ngalam
Ingkang Maha Mirah lan Maha Asih
Ingkang angratoni benjang ing dinten piwales
Namung dhateng Tuan (dhuh Allah) kula manembah, lan namung dhumateng Tuwan (dhuh Allah) kula nyuwun pitulungan.
Mugi katedahna ing kula marg ingkang jejeg lan leres
inggih punika margining kawula Paduka ingkang nampi peparing ni'mat
sanes margining para ingkang nampi bebendu
lan sanes margining para ingkang sasar
Langganan:
Komentar (Atom)